Web Toolbar by Wibiya SCOLAH - Unair Mengajar

SCOLAH - Unair Mengajar

School of Airlangga in Harmony - "Memberi Harapan, Menebar Inspirasi, Membangun Mimpi" SCOLAH - Unair Mengajar. Dibentuk sebagai program kerja jangka panjang Departemen Pengabdian Masyarakat BEM Unair yang menekankan dua hal dari Tridharma Perguruan Tinggi, yaitu Pendidikan dan Pengabdian Masyarakat. Nantinya di dalam SCOLAH - Unair Mengajar akan menaungi tiga program utama, yaitu : Forum Kakak Asuh (FOKAS SCOLAH), Rumah Belajar (Rubel SCOLAH), dan Perpustakaan Sinar SCOLAH. Diharapkan dengan terbentuknya SCOLAH - Unair Mengajar dapat menjadi wadah sinergisasi dan meningkatkan pemberdayaan potensi Masyarakat Kampus Airlangga terhadap pendidikan dasar di Indonesia.





“Aku BISA, karena aku MEMBACA.”

“Aku BISA, karena aku MEMBACA.”

Mendapatkan pendidikan sampai tingkat sarjana pun sebenarnya bukan hanya sebatas impian mereka saat masih anak-anak.

Mendapatkan pendidikan sampai tingkat sarjana pun sebenarnya bukan hanya sebatas impian mereka saat masih anak-anak.

Belajar dan bermain adalah hak mereka, adik-adik kita putra-putri penerus bangsa.

Belajar dan bermain adalah hak mereka, adik-adik kita putra-putri penerus bangsa.

Mereka juga bagian dari kita, dan mereka juga punya cita-cita. Mungkin mereka bisa tersenyum, tapi bermimpi??? atau mungkin bahkan melewati batas realita mereka???
Source : rumahpadi

Mereka juga bagian dari kita, dan mereka juga punya cita-cita. Mungkin mereka bisa tersenyum, tapi bermimpi??? atau mungkin bahkan melewati batas realita mereka???

Source : rumahpadi

kampoeng:

Bayar SPP Pakai Beras
Ketika duduk di bangku Sekolah Dasar (SD) HKBP di Kabupaten Simalungun,  ada perlakuan yang agak istimewa untuk murid yang orang tuanya petani. Memang agak mengherankan. Biasanya guru lebih  ‘ sayang ‘  sama murid yang orang tuanya kehidupannya lebih ‘mapan’  misalnya Pegawai Negeri , pegawai swasta ataupun pedagang.
Kenapa pula anak petani ini lebih  di sayang ?…….
Ternyata bermuasal dari pembayaran  SPP (dulu di sebut iuran). Sekolah di SD HKBP itu  uang sekolah di bayar dalam 2 jenis yaitu bentuk uang dan beras. Artinya, selain wajib membayar uang sekolah, murid juga di wajibkan membawa beras tiap bulannya. Biasanya, sih setiap murid dikenai kewajiban 2 liter beras.
Murid yang anak petani beras yang diberikan kepada guru di sekolah umumnya beras kualitas terbaik dari hasil panen. ” Boras baru” istilah petani  kampung di Simalungun.
Beras ini tentu berbeda rasanya dari beras yang beredar di pasar yang berasal dari Bulog. Beras yang  dari Bulog biasanya sudah di beri pengawet agar tahan lama di dalam gudang.
Cobalah sekali-kali  memasak pakai ‘beras baru’ yang langsung dari  panen petani. Rasanya beda jauh dengan beras dari pembelian di pasar. Aromanya harum dan rasanya sangat pulen. Pantas saja guru2 di sekolah pada ketagihan makan ‘beras baru’ pak Tani.
Untuk murid yang orang tuanya Pegawai Negeri Sipil (PNS), biasanya memberikan beras jatah orang tuanya dari kantor untuk di bawa ke  sekolah. Tentu saja kita tahu bagaiman kualitas beras jatah PNS. Selain warnanya kuning, tidak putih bersih seperti beras baru rasanya tidak enak bahkan terkadang banyak ulatnya. Dan tentu saja yang bikin kesal, yaitu bau beras jatah PNS itu yang  terkadang apek membuat guru2 enggan memakannya.

kampoeng:

Bayar SPP Pakai Beras

Ketika duduk di bangku Sekolah Dasar (SD) HKBP di Kabupaten Simalungun,  ada perlakuan yang agak istimewa untuk murid yang orang tuanya petani. Memang agak mengherankan. Biasanya guru lebih  ‘ sayang ‘  sama murid yang orang tuanya kehidupannya lebih ‘mapan’  misalnya Pegawai Negeri , pegawai swasta ataupun pedagang.

Kenapa pula anak petani ini lebih  di sayang ?…….

Ternyata bermuasal dari pembayaran  SPP (dulu di sebut iuran). Sekolah di SD HKBP itu  uang sekolah di bayar dalam 2 jenis yaitu bentuk uang dan beras. Artinya, selain wajib membayar uang sekolah, murid juga di wajibkan membawa beras tiap bulannya. Biasanya, sih setiap murid dikenai kewajiban 2 liter beras.

Murid yang anak petani beras yang diberikan kepada guru di sekolah umumnya beras kualitas terbaik dari hasil panen. ” Boras baru” istilah petani  kampung di Simalungun.

Beras ini tentu berbeda rasanya dari beras yang beredar di pasar yang berasal dari Bulog. Beras yang  dari Bulog biasanya sudah di beri pengawet agar tahan lama di dalam gudang.

Cobalah sekali-kali  memasak pakai ‘beras baru’ yang langsung dari  panen petani. Rasanya beda jauh dengan beras dari pembelian di pasar. Aromanya harum dan rasanya sangat pulen. Pantas saja guru2 di sekolah pada ketagihan makan ‘beras baru’ pak Tani.

Untuk murid yang orang tuanya Pegawai Negeri Sipil (PNS), biasanya memberikan beras jatah orang tuanya dari kantor untuk di bawa ke  sekolah. Tentu saja kita tahu bagaiman kualitas beras jatah PNS. Selain warnanya kuning, tidak putih bersih seperti beras baru rasanya tidak enak bahkan terkadang banyak ulatnya. Dan tentu saja yang bikin kesal, yaitu bau beras jatah PNS itu yang  terkadang apek membuat guru2 enggan memakannya.